Senin, 03 September 2018

Resensi Novel Jangan Buang Ibu Nak...



Judul buku                   : Jangan Buang Ibu,Nak...

Jenis buku                   : Fiksi
Penulis buku                : Wahyu Derapriyangga
Penerbit buku             : Kawah Media
Ketebalan  buku          :  209 halaman
Tahun terbit buku        : Tahun 2014


Sinopsis
                

Buku ini menceritakan tentang Perjuangan seorang Ibu bernama Restiana dalam mensukseskan anak-anaknya 2 orang putra dan 1 orang putri yang bernama Sulung,Tengah,dan Bungsu. Ibu Restiana berjuang menjalani hidup tanpa Sang Suami karena telah dahulu berpulang ke Rahmatullah. Ibu Restiana sangat begitu berjasa dalam kehidupan anak-anaknya. Bahkan beliau rela banting tulang agar dapat menyekolahkan anak-anaknya hingga kejenjang yang lebih tinggi. Keringat dan kerja kerasnya membuahkan hasil untuk anak-anaknya.
Namun sayangnya Ibu Restiana malah dibuang ke Panti Jompo Werdha Dharma Sejahtera oleh anaknya yang cantik si Bungsu karena sudah tidak sanggup lagi merawat Sang ibu. Sungguh bukanlah keinginan seorang ibu yang telah merawatnya sepenuh hati dari kecil hingga sesukses itu. Masing-masing telah memiliki pasangan hidup,Si Tengah di Bengkulu dengan usaha pertanian dan perikanannya. Sedangan, Si Bungsu harus pindah ke Aceh mengikuti Sang Suami yang bertugas sebagai ABRI disana. Namun Sulung bernasib di jeruji besi karena diduga menjadi seorang pengedar narkoba di kampusnya ,padahal Sang Ibu telah menjual rumah untuk biaya kuliahnya di Jakarta.di panti jompo ibu restiana menghitung hari menanti maut datang menjemput.kini tidak hanya fisik ibu restiana yang semakin rapuh akibat sernagan stroke.melainkan hatinya juga telah hancur menghadapi kenyataan bahwa ia telah dibuang oleh anak kandungnya sendiri.anak yang sudah dibesarka dengan darah dan air mata tetapi balasannya dengan perlakuan yang seperti ini.di saat ibu restiana membutuhkan perhatian dan kasih sayang di sisa ahir usianya tetapi yang didapatkan perlakuan seperti dibuang ke panti asuhan.
Ibu Restika pun berpulang ke Rahmatullah dalam usia 85 tahun dengan keadaan memiliki penyakit stroke pasca mengetahui keadaan Sulung. Ibu Restiana meninggal dunia tanpa kehangatan keluarga dan tanpa anak-anak juga cucu-cucunya. Namun ibu Restiana tidak pernah membenci anak-anaknya dan beliau selalu berdo’a dalam setiap shalatnya untuk anak-anaknya yang kini telah melupakannya.
Unsur intrinsik pengembangan dari buku ini meliputi plot atau alur cerita,penokohan,latar atau seting,sudut pandang,dan amanat.
 
Unsur Intrinsik
Alur atau Plot:
Maju mundur.Alur maju karena pada cerita di awal novel menceritakan ketika ibu restiana telah dip anti jompo.Alur mundur karena menceritakan tentang perjuangan ibu Restiana menghidupi anak-anaknya.
Penokohan:
Ibu restiana :baik,pekerja keras,penyanyang,sabar,dan tekun.
Suami ibu restiana:pekerja keras,penegertian dan baik.
Bungsu:mudah menyerah dan tidak tahu diri
Tengah:tekun dan penyanyang
Sulung :suka berbohong dan mudah menyerah
Latar:
Tempat 1.jakarta
               2.monas
               3.rumah sakit
               4.bengkulu
               5.bogor
               6.yogyakarta
               7.aceh
               8.panti jompo
Suasana 1.sedih:ketika si sulung  membawa ibunya ke panti jompo werdha dharma sejahtera tidak mau merawat ibunya yang sudah merawatnya sejak kecil.kesusuksesan membuat si sulung lupa diri sehingga menjadi anak yang tidak berbakti kepada ibunya sendiri.
                2. mengharukan :saat  si bungsu membuang ibunya ke panti jompo mebiarkan ibunya tidak menemukan kehangatan keluarga.sunyi,dingin dan tanpa sedekitpun gairah hidup.perjuangan yang ingin dibalas dengan kehangatan kelurga pada hari tua tidak dapat dirsakan,sampai hembusan nafas terhair tidak ada seorang pun anak yang menjenguknya.
Waktu    1.pagi
                2. siang
                3 .sore
                4.malam

Sudut pandang:sudut pandang orang ketiga pelaku utama
Amanat: Jangan menyia-nyiakan perjuangan orang tua yang sudah berjuang susah payah memeperjuangkan masa depan kita.berjuang untuk menghidupi dan berusaha untuk membhagiakan anak-anaknya sampai titik darah penghabisan.orang tua selalu melakukan yang terbaik sampai lupa membahgiakan diri sendiri dan mengutamkan kepentingan anak-anaknya adalah diatas segalanya.jadilah anak yang mampu menghargai setiap jerih payah yang telah orang tua lakukan,buat dia tersenyum.balaslah jasa-jasa beliau walau dengan bentuk apapun tidak ada yang mampu memblas perjuangannya.setidaknya dengan selalu menghormati dan membuatnya tersenyum adalah bagaimana kita menjadi anak yan tau berbalas budi.
Kelebihan Buku :

Memiliki ukuran buku yang sangat efisien untuk dibawa kemana saja.
Memiliki kosa kata yang sangat mudah dimengerti oleh para pembaca.
Warna sampul yang unik dan indah untuk dipandang juga menarik untuk dibaca.
Memiliki amanat yang sangat kuat terhadap para pembaca.

 Kekurangan Buku :

Warna kertas yang cenderung terlihat kusam.
Tidak dilengkapi lampiran foto-foto atau gambar-gambar yang menambah aspek pengembangan dalam buku tersebut.

Tanggapan tentang Buku :

Buku ini sangat layak untuk dibaca terutama oleh para anak muda,karena dalam buku ini terdapat banyak makna yang sangat berarti dalam kehidupan sehari-hari. Di samping itu buku ini pula disajikan dengan kosa kata yang sangat mudah dipahami oleh para pembaca sehingga sangat menarik untuk dibaca agar kita bisa menjadi seorang anak yang mampu berbakti kepada orang tua,dan bisa menghargai kerja keras seorang ibu untuk menghidupi dan berjuang untuk mencapi kesuksesan anak-anaknya.

Kesimpulan : berdasarkan kisah yang telah kami baca yang berjudul” jangan buang ibu,nak.”Menggambarkan sikap seorang anak yang tidak tahu terima kasih kepada ibunya,kasih sayang yang telah diberikan oleh ibunya tidak berbalas baik,hal ini  membuat  ibu restiana tidak mengerti mengapa semua kebaikan yang ia lakukan tetapi anakanya malah membuangnya ke panti jompo.anak yang tega dan tidak mempunyia budi terhadap jasa yang telah ibunya korbankan.kasih sayang seorang ibu tidak akan habis untuk anak-anaknya hargai dan menicntailah orang tua terutama ibu karena beliau adalah malaikat yang rela mengorbankan jiwa dan raga demi anak tercinta.



Jangan lupakunjungi http://uny.ac.id baca juga di http://library.uny.ac.id dan kunjungi juga https://journal.uny.ac.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar