Senin, 03 September 2018

Resensi Risalah Cinta karya Kahlil Gibran


Identitas Buku

Judul    :Risalah Cinta

Penulis  :Kahlil Gibran

Penerbit :Melibas

Cetakan :4,Oktober 2003

Tebal      :137 halaman


SINOPSIS
Kisah cinta seorang remaja laki-laki berusia 18 tahun dengan seorang gadis jelita yang kaya akan kharisma yang sangat peka akan rasa dan gerak gerik tubuh. Mereka jatuh cinta. Lalu datanglah ujian-ujian  yang mengantarkan risalah cinta pertama mereka ke danau api. Kisah cinta mereka yang menggetarkan itu – sebuah kisah yang tersauk di antara rindu, dendam, air mata dan kematian.Tentang cinta yang harus terenggut karena sebuah takdir.
Awal pertemuanya dengan bidadari cintanya, Selma Karamy di taman kebun depan rumahnya menjadi saksi awal keindahan dan kehancuran cinta mereka. Setelah sekian lama ia terkungkung dalam sunyinya masa remaja, hanyalah secercah sinar yang mampu membangkitkannya, sejenak saja ia harus membayarnya dengan segudang penderitaan dimasa depan. Disaat bunga hendak mekar menyambut sinar kehidupan, saat itu pula kekuasaan dan keserakahan sang kemenakan pastus menerjang cinta mereka.Selma Karamy dipaksa menikah dengan orang yang sangat busuk, sehingga baunya membuat penderitaan bagi yang mendekatinya. Tak terlepas Gibran yang mencoba menyelamatkan sang pujaan hatinya, namun apalah artinya pisau bila dipaksa mematahkan sebatang baja. Ia tak bisa berbuat banyak, hanya merawat cinta sejatinya yang selalu bersemi diantara mereka di depan sebuah kuil kecil yang menjadi saksinya. Hingga kematian menjemput Selma, ayahnya dan buah hatinya yang tertanam dalam lubang nisan dan kematian yang sama. Kini Selma menanti kebersamaan di alam keabadiannya.
KELEBIHAN
Buku ini mudah menarik simpati para pembaca dengan berbagai godaan yang terurai dalam untaian kata-kata yang mempesona. Sehinga tak segan-segan para pembaca tertegun sejenak dan meneteskan air matanya karena hembusan syair yang menembus kalbu sang pembaca.
Keelokan kata-kata penggiring kisah dua sejoli ini banyak memberikan inspirasi bagi pembaca.
KEKURANGAN
Kaum agamawan -  agama apapun itu – yang menyebarkan agama tanpa petunjuk sang Pencipta, telah membuat sang penulis bersikap miringterhadap semua agama. Semoga kisah ini tidak mempengaruhi pembaca kepada anggapan miring-nya terhadap agama apapun.
Jangan lupakunjungi http://uny.ac.id baca juga di http://library.uny.ac.id dan kunjungi juga https://journal.uny.ac.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar